January 19, 2009

SAYA BENCI MUSIM HUJAN

Musim ujan dateng lagi. Fxxk. Padahal gua paling benci musim ujan.
Jadi inget pengalaman setahun yang lalu saat gua terjebak banjir karena berkeras berangkat ke tempat kerja praktek yang berada di Pulo Gadung.
Ini adalah pengalaman gua setahun yang lalu, diambil dari blog gua di MySpace tanggal 3 Februari 2008,
yang masih keinget banget sampe sekarang.

=====================================

Walaupun sudah seumur hidup di Jakarta, pasti belum banyak yang pernah merasakan naik bus Mayasari Bakti dengan badan setengah diluar, sambil kaki terendam oleh air banjir yang ketinggiannya mencapai pintu bus. Think of it!


Yah setidaknya gua pernah merasakan hal itu. Kejadiannya saat Jakarta diguyur hujan yang tak berhenti sejak tanggal 31 Januari 2008 malam.
Tanggal 1 Februari, gua sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor tempat magang gua yang terletak di daerah Pulogadung. Ketika akan meninggalkan rumah pada pukul 07.30 pagi, hujan masih saja setia mengguyur Jakarta. Akhirnya gua menunggu hujan berhenti dengan memainkan gitar yang ada di sebelah gua. Saat kira-kira pukul 9.45, dan hujan belum berhenti juga, gua pun memutuskan untuk berangkat dengan meminjam payung milik salah seorang teman. Gua-pun sukses naik ke dalam busway Transjakarta dari halte Senen.


Tetapi, awal kejadian sesungguhnya baru dimulai saat mulai terlihat kemacetan yang cukup parah di depan ITC Cempaka Mas. Busway yang gua naiki pun sempat +/- 1/2 jam tidak bergerak. Ternyata, banjir sudah mulai menampakkan dirinya di daerah itu. Akhirnya, busway yang gua tumpangi pun mengurungkan niat untuk meneruskan sampai ke Pulogadung dikarenakan banjir yang cukup parah di daerah sekitar sana, dan hanya mengantar penumpangnya sampai halte Pedongkelan yang terletak tak jauh dari Pul Transjakarta Busway. Banyak penumpangnya yang akhirnya nekat turun dari pintu busway yang sangat tinggi itu (tanpa halte!!) dan berbondong-bondong naik ke sebuah bus PPD jurusan Pulogadung. Penumpang lain termasuk gua akhirnya diturunkan lewat pintu depan di Pul Transjakarta tersebut. Dengan tangan sudah keriput saking dinginnya, dan tanpa ada transportasi untuk kembali ke rumah, gua menunggu di pos penjagaan Transjakarta Busway selama kurang lebih 2 jam bersama orang-orang yang juga menunggu adanya transportasi.


Akhirnya, kira2 pukul 14.00, terlihatlah sebuah bus PPD Mayasari Bakti dengan bodi miring karena kelebihan beban. Karena itu terlihat sebagai satu-satunya cara untuk kembali ke daerah Senen, akhirnya gua pun ikut dalam bus itu. Seperti yang gua bilang di awal blog ini, yang gua maksud ikut dengan bus ini adalah dengan berusaha bergantungan di pintu masuk sebelah depan menggunakan telapak tangan yang sudah keriput dan memutih karena kedinginan, badan gua sebagian besar tetap diluar, dengan kaki yang sekali-kali terendam banjir yang tingginya mencapai pintu bus!!! Gila!! Parah!! Dengan keadaan itu, selama perjalanan yang lumayan panjang menuju Senen, gua berusaha untuk menjaga diri gua dan tas gua, dan melihat orang-orang di luar yang rumahnya sudah terendam banjir. Damn!
Akhirnya, gua berhasil sampai di Senen dengan selamat, dan langsung melanjutkan perjalanan menuju rumah menggunakan Metromini 17, tetap dengan badan yang menggigil kedinginan, dan telapak tangan kesemutan.


What a crazy!! Pesen gua, HATI-HATI INI JAKARTA!

4 people shout:

Tiffanikoe said...

bayangkan saya pondok gede - cikini dhany!!!!!!!!!!!!!!!!!! bersyukurlah dirimu ngekost!!!!!!! hehehehee

SAYAPKOTA said...

yah begitulah nona...inilah JAKARTA...tidak mengenal siapa-siapa.....laki-laki ataupun wanita diperlakukan sama saja...musim hujan ataupun musim kemarau......
Jika ada pribahasa modern yang mengatakan "jakarta lebih kejam daripada ibu tiri" saia rasa itu benar adanya........

NINIS DEAR said...

dhan, uve ever in that situation? that was so suck rite ?

gadisradio said...

iya mba, pernah banget.
so f*kkn sucks!
:D

"people don't change, you just found out who they truly are"